Dalam industri baja modern, efisiensi energi menjadi tolok ukur utama keberhasilan. Di tengah tantangan global terhadap kenaikan biaya energi dan tuntutan keberlanjutan, Billet Mulia Steel muncul sebagai pionir dengan mengembangkan teknologi furnace (tungku pemanas) ramah energi yang mengedepankan efisiensi tinggi, emisi rendah, dan produktivitas maksimal.
Langkah inovatif ini bukan sekadar pembaruan alat produksi, tetapi merupakan lompatan strategis menuju industri baja hijau (green steel industry) — konsep manufaktur masa depan yang berorientasi pada efisiensi, keberlanjutan, dan tanggung jawab lingkungan.
Tantangan Energi dalam Industri Baja Nasional
Industri baja dikenal sebagai salah satu sektor dengan konsumsi energi terbesar di dunia. Proses peleburan dan pemanasan logam memerlukan suhu ekstrem — mencapai 1.600°C — yang menuntut penggunaan energi dalam jumlah besar.
Teknologi Furnace Ramah Energi di Billet Mulia Steel
Billet Mulia Steel berinvestasi besar dalam modernisasi sistem furnace untuk meminimalkan pemborosan energi dan menekan emisi gas buang. Sistem ini dikenal sebagai “Smart Regenerative Furnace System”, yaitu tungku dengan mekanisme sirkulasi panas cerdas yang dapat mengoptimalkan penggunaan energi panas sisa dari proses sebelumnya.
- Regenerative Heat Recovery System
Teknologi ini memungkinkan panas buangan dari gas pembakaran dimanfaatkan kembali untuk memanaskan udara masuk.
Dengan cara ini, konsumsi bahan bakar dapat berkurang hingga 25–35%, tanpa mengurangi suhu target pada proses peleburan.
- Automatic Temperature Control
Furnace di pabrik Billet Mulia Steel dilengkapi sensor cerdas dan sistem kontrol otomatis berbasis Programmable Logic Controller (PLC).
Sensor ini memantau suhu secara real-time dan menyesuaikan tekanan pembakaran secara dinamis, sehingga menjaga kestabilan termal dan menghindari kehilangan energi yang tidak perlu.
- Low NOx Burner Technology
Selain efisiensi, inovasi ini juga mengutamakan keberlanjutan.
Penggunaan Low NOx Burner membantu menekan emisi nitrogen oksida — salah satu gas penyebab polusi udara — hingga 50% lebih rendah dibandingkan furnace konvensional.
- High Insulation Refractory
Lapisan pelindung dinding furnace kini menggunakan material refractory insulatif berpori mikro, yang mampu meminimalkan kehilangan panas konduktif.
Hasilnya: suhu internal furnace tetap stabil lebih lama, dan kebutuhan energi untuk pemanasan ulang menjadi jauh lebih rendah.
Efisiensi Energi yang Dapat Diukur
Implementasi teknologi furnace ramah energi di Billet Mulia Steel telah menunjukkan hasil yang terukur dan signifikan.
Berdasarkan laporan internal dan hasil audit energi independen, perusahaan berhasil:
- Menurunkan konsumsi energi per ton billet hingga 32%.
- Mengurangi emisi CO₂ tahunan sebesar 18.000 ton.
- Meningkatkan produktivitas furnace sebesar 20%, berkat kestabilan suhu dan waktu peleburan yang lebih singkat.
Menuju Furnace Cerdas (Smart Furnace System)
Inovasi Billet Mulia Steel tidak berhenti pada peningkatan efisiensi mekanik.
Perusahaan juga mengintegrasikan sistem digital berbasis Industrial Internet of Things (IIoT) untuk menciptakan furnace pintar.
Sistem ini mengumpulkan data suhu, aliran udara, dan konsumsi gas dari seluruh sensor yang tertanam di dalam tungku, kemudian menganalisisnya dengan algoritma machine learning.
Hasil analisis tersebut digunakan untuk:
- Menentukan pola pembakaran paling efisien.
- Memprediksi waktu perawatan furnace (predictive maintenance).
- Mengoptimalkan rasio bahan bakar terhadap volume material cair.
Menuju Produksi Baja Hijau (Green Steel Production)
Dengan teknologi furnace hemat energi, Billet Mulia Steel berkontribusi langsung pada agenda Green Steel Initiative — konsep produksi baja yang menekan emisi karbon, menghemat sumber daya, dan mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-12: Responsible Consumption and Production.
Selain itu, Billet Mulia Steel juga mengimplementasikan sistem daur ulang energi panas buangan (waste heat recovery) ke dalam proses pre-heating, sehingga energi yang biasanya terbuang dapat digunakan kembali.
Langkah ini memperkuat reputasi perusahaan sebagai pionir industri baja berkelanjutan di Indonesia