Industri baja telah lama menjadi tulang punggung pembangunan dunia modern. Dari jembatan, gedung bertingkat, hingga infrastruktur transportasi — semuanya bergantung pada kekuatan baja. Namun di tengah tuntutan global terhadap pengurangan emisi dan efisiensi energi, muncul satu pertanyaan besar: mampukah industri baja bertransformasi menjadi lebih hijau tanpa kehilangan produktivitas?
Billet Mulia Steel menjawab pertanyaan itu dengan tindakan nyata. Melalui serangkaian inovasi dan transformasi proses produksi, perusahaan ini berhasil menapaki jalan menuju industri baja berkelanjutan, menggabungkan efisiensi, tanggung jawab lingkungan, dan teknologi cerdas
-
Mengapa Green Industry Penting bagi Sektor Baja
Baja adalah salah satu material paling vital sekaligus paling intensif energi di dunia. Proses produksinya — mulai dari peleburan bijih besi hingga pencetakan billet — mengonsumsi energi besar dan menghasilkan emisi karbon dalam jumlah signifikan.
Data dari World Steel Association menunjukkan bahwa industri baja global menyumbang sekitar 7–9% dari total emisi CO₂ dunia. Artinya, setiap langkah menuju efisiensi energi di sektor ini akan membawa dampak besar terhadap upaya global dalam mengurangi jejak karbon.
Sebagai perusahaan yang beroperasi di jantung industri berat, Billet Mulia Steel menyadari bahwa masa depan tidak hanya dimiliki oleh perusahaan yang kuat secara finansial, tetapi juga yang mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan keberlanjutan lingkungan
-
Langkah Strategis Billet Mulia Steel Menuju Produksi Hijau
Transformasi menuju industri hijau bukan hanya tentang mengganti bahan bakar atau menanam pohon sebagai kompensasi. Ini adalah perubahan menyeluruh yang mencakup desain ulang sistem produksi, efisiensi energi, manajemen limbah, hingga tanggung jawab sosial.
Berikut langkah nyata yang telah dan sedang dijalankan oleh Billet Mulia Steel:
- Penerapan Sistem Energi Efisien di Proses Peleburan
Proses peleburan merupakan tahap paling intensif energi dalam produksi billet. Billet Mulia Steel telah mengimplementasikan Electric Arc Furnace (EAF) generasi terbaru yang mampu meminimalkan kehilangan energi panas dan meningkatkan efisiensi hingga 25% dibandingkan tungku konvensional.
Selain itu, sistem waste heat recovery digunakan untuk memanfaatkan kembali panas sisa dari proses pembakaran guna memanaskan bahan baku berikutnya. Pendekatan ini secara langsung mengurangi konsumsi energi listrik dan emisi karbon.
- Pemanfaatan Bahan Baku Daur Ulang
Salah satu strategi paling efektif dalam menekan emisi adalah menggunakan scrap metal (besi bekas) sebagai bahan baku utama.
Lebih dari 60% input produksi billet di pabrik Mulia Steel kini berasal dari baja bekas industri dan konstruksi yang dikumpulkan melalui jaringan scrap collector nasional.
Dengan cara ini, perusahaan tidak hanya mengurangi kebutuhan bijih besi baru, tetapi juga menghemat energi hingga 70% dibandingkan produksi baja dari bahan mentah.
- Zero Waste Management System
Mulia Steel menerapkan sistem pengelolaan limbah terintegrasi dengan prinsip “Zero Waste, Maximum Recovery.”
- Debu dan slag (terak baja) hasil peleburan diproses ulang menjadi bahan dasar untuk paving block dan material konstruksi.
- Air pendingin produksi disirkulasikan melalui closed-loop water system agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
- Emisi gas buang dikontrol menggunakan Electrostatic Precipitator (ESP) dan Bag Filter System untuk memastikan kualitas udara tetap aman sesuai standar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Langkah-langkah ini menegaskan bahwa setiap aspek dari proses produksi Mulia Steel berorientasi pada daur ulang dan pemanfaatan kembali
- Integrasi Energi Terbarukan
Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, Billet Mulia Steel mulai mengintegrasikan sumber energi terbarukan, khususnya panel surya di area non-produksi seperti kantor, area penyimpanan, dan sistem penerangan pabrik.
Meski kontribusinya masih pada tahap awal (sekitar 8–10% dari total kebutuhan energi non-produksi), inisiatif ini menjadi simbol nyata peralihan menuju industri baja berbasis energi hijau
- Sistem Pengelolaan Air dan Efisiensi Pabrik
Air merupakan elemen penting dalam proses pendinginan baja cair.
Mulia Steel mengembangkan Water Treatment Plant (WTP) internal dengan sistem daur ulang yang dapat menghemat penggunaan air hingga 50%.
Semua air sisa proses diolah kembali melalui tahapan filtrasi, sedimentasi, dan desinfeksi, sebelum dikembalikan ke sistem
-
Digitalisasi dan Transparansi: Pilar Industri Hijau Modern
Mulia Steel memahami bahwa keberlanjutan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang pengendalian dan transparansi proses.
Oleh karena itu, perusahaan mengadopsi sistem Industrial Internet of Things (IIoT) untuk memantau parameter lingkungan secara real-time — mulai dari konsumsi listrik, suhu tungku, hingga emisi gas buang.
Dengan data yang terkumpul secara digital, Mulia Steel dapat:
- Menganalisis efisiensi per batch produksi,
- Mengidentifikasi potensi pemborosan energi,
- Melakukan perbaikan preventif sebelum terjadi overuse energi.
Semua data tersebut juga mendukung laporan keberlanjutan (Sustainability Report) yang dapat diakses oleh regulator, pelanggan industri, dan mitra kerja.
-
Kolaborasi untuk Ekosistem Hijau Nasional
Menuju industri hijau tidak bisa dilakukan sendirian. Billet Mulia Steel aktif membangun kemitraan dengan:
- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dalam program Industri Hijau Nasional 2030.
- Asosiasi Baja Indonesia (IISIA) untuk pengembangan pedoman produksi efisien dan rendah karbon.
- Komunitas lokal dan UMKM sekitar pabrik dalam program Eco-Community, yang berfokus pada edukasi pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular.
Pendekatan kolaboratif ini memastikan bahwa keberlanjutan yang dijalankan tidak berhenti di dalam pabrik, tetapi menjangkau masyarakat dan rantai pasok di sekitarnya
-
Hasil Nyata: Efisiensi dan Dampak Positif
Sejak menerapkan kebijakan Green Industry Roadmap, Billet Mulia Steel berhasil mencatatkan:
- Penurunan emisi karbon sebesar 18% dalam tiga tahun terakhir.
Efisiensi energi meningkat 22% per ton billet yang dihasilkan.
Pemanfaatan limbah non-produktif mencapai 95% menjadi bahan bernilai ekonomi.
Konsumsi air baru berkurang hingga 50%.
-
Arah ke Depan: Menuju Produksi Karbon Netral
Dalam jangka panjang, Mulia Steel menargetkan untuk menjadi produsen billet rendah karbon pertama di Indonesia.
Beberapa langkah strategis yang sedang dikembangkan meliputi:
- Implementasi Carbon Capture & Utilization (CCU) untuk menangkap emisi CO₂ dari tungku peleburan.
- Investasi dalam hydrogen-based steelmaking technology sebagai pengganti bahan bakar fosil.
- Peningkatan sistem energi terbarukan hingga 25% dari total kebutuhan listrik pabrik pada tahun 2030.
Dengan langkah-langkah ini, Billet Mulia Steel tidak hanya beradaptasi terhadap tuntutan global, tetapi juga menjadi pionir perubahan industri baja nasional
Baja yang Kuat, Bumi yang Lestari
Transformasi menuju Green Industry bukan perjalanan singkat — tetapi langkah panjang menuju masa depan yang berkelanjutan.
Billet Mulia Steel membuktikan bahwa kekuatan baja tidak hanya berasal dari unsur logamnya, tetapi juga dari nilai-nilai tanggung jawab, kesadaran lingkungan, dan inovasi tanpa henti.
Di tengah perubahan iklim global, komitmen Mulia Steel bukan sekadar menjaga performa bisnis, melainkan menjaga keseimbangan bumi untuk generasi mendatang.
Karena pada akhirnya, baja yang kuat adalah baja yang diproduksi dengan hati dan kepedulian terhadap lingkungan.