Dunia industri logam tengah memasuki fase paling menentukan dalam sejarahnya — transisi menuju energi hijau. Pergeseran ini bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk mengurangi emisi karbon dan menjaga keberlanjutan sumber daya bumi. Di tengah tantangan global tersebut, Mulia Steel, sebagai produsen billet nasional yang berkomitmen pada efisiensi dan inovasi, menunjukkan kesiapan nyata untuk beradaptasi dan memimpin perubahan ini.
Billet, sebagai produk setengah jadi dari baja yang menjadi bahan utama pembuatan berbagai produk logam — mulai dari besi beton hingga baja profil — memegang peran vital dalam rantai pasok industri baja. Karena itu, adaptasi proses produksinya terhadap prinsip energi bersih dan rendah emisi menjadi langkah strategis yang tidak bisa ditunda.
Mulia Steel menyadari bahwa masa depan industri baja tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga oleh seberapa hijau dan efisien prosesnya. Oleh sebab itu, perusahaan telah merancang strategi komprehensif untuk memastikan kesiapan dalam menghadapi era energi baru ini.
-
Transisi Energi Hijau dan Dampaknya terhadap Industri Baja
1.1. Tekanan Global terhadap Dekarbonisasi Industri
Sejak perjanjian Paris (Paris Agreement) tahun 2015, banyak negara telah berkomitmen untuk menurunkan emisi karbon hingga net zero pada pertengahan abad ini. Sektor baja, yang secara global menyumbang sekitar 7% dari total emisi CO₂ dunia, menjadi fokus utama dalam agenda dekarbonisasi industri.
Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa kini sedang mengembangkan teknologi produksi baja berbasis hidrogen (hydrogen-based steelmaking) untuk menggantikan metode konvensional yang bergantung pada batu bara kokas.
Indonesia, sebagai produsen baja terbesar di Asia Tenggara, memiliki tanggung jawab besar untuk mengikuti jejak tersebut. Di sinilah Mulia Steel berperan — sebagai salah satu perusahaan billet yang berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar pelaku industri konvensional.
1.2. Pergeseran Paradigma Energi di Indonesia
Pemerintah Indonesia melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) menargetkan bauran energi baru terbarukan mencapai 23% pada tahun 2025. Dalam konteks industri baja, ini berarti dorongan kuat untuk menggunakan sumber energi alternatif seperti gas alam, biomassa, listrik dari PLTS, atau bahkan hidrogen hijau untuk proses peleburan logam.
Mulia Steel melihat peluang besar di dalam transisi ini: efisiensi operasional yang lebih tinggi, biaya energi yang stabil, serta reputasi perusahaan yang lebih hijau dan kompetitif secara global.
-
Kesiapan Infrastruktur dan Teknologi Produksi Mulia Steel
2.1. Penerapan Teknologi Energi Efisien di Pabrik
Salah satu langkah nyata Mulia Steel dalam menghadapi transisi energi adalah penerapan sistem Electric Arc Furnace (EAF) generasi baru, yang jauh lebih efisien dibandingkan tanur tradisional berbasis batu bara.
Teknologi ini memungkinkan perusahaan menggunakan scrap metal atau baja daur ulang sebagai bahan baku, yang secara langsung mengurangi emisi CO₂ dan konsumsi energi fosil.
Selain itu, sistem pemanfaatan waste heat recovery juga telah diintegrasikan ke dalam proses produksi. Panas buangan dari tungku digunakan kembali untuk mengeringkan bahan baku atau menghasilkan uap bagi sistem pendingin internal.
Langkah ini tidak hanya menghemat energi, tetapi juga menurunkan emisi karbon secara signifikan.
2.2. Penggunaan Energi Terbarukan dan Digitalisasi Produksi
Mulia Steel berinvestasi dalam instalasi panel surya di area pabrik sebagai sumber listrik tambahan untuk kegiatan non-produksi seperti penerangan, sistem pendingin, dan operasional kantor.
Selain itu, perusahaan telah menerapkan digital energy monitoring system yang memantau konsumsi energi secara real time, sehingga manajemen dapat segera mengidentifikasi area yang boros dan melakukan perbaikan cepat.
Digitalisasi ini sejalan dengan prinsip Industri 4.0, di mana teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan machine learning digunakan untuk mencapai efisiensi energi optimal tanpa mengorbankan produktivitas.
-
Komitmen terhadap Lingkungan dan Keberlanjutan
3.1. Sistem Pengelolaan Limbah Terintegrasi
Selain fokus pada efisiensi energi, Mulia Steel juga menerapkan sistem Zero Waste Factory, di mana limbah padat dari proses peleburan seperti slag dan debu furnace diolah kembali menjadi bahan baku sekunder.
Sisa slag, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran konstruksi atau agregat jalan, sementara air pendingin dari proses pembuatan billet didaur ulang melalui sistem filtrasi tertutup.
Dengan cara ini, perusahaan memastikan bahwa setiap tahap proses produksi memberikan dampak lingkungan seminimal mungkin.
3.2. Sertifikasi Lingkungan dan Transparansi
Mulia Steel secara aktif mempersiapkan diri untuk memperoleh sertifikasi ISO 14001 (Manajemen Lingkungan) serta mengikuti prinsip-prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).
Melalui laporan keberlanjutan tahunan, perusahaan berupaya menampilkan transparansi terhadap penggunaan energi, pengelolaan limbah, dan target pengurangan emisi karbon.
Langkah ini bukan hanya meningkatkan kredibilitas di mata mitra industri dan pemerintah, tetapi juga menempatkan Mulia Steel di posisi strategis sebagai pemasok billet hijau (green billet) di masa depan.
-
Sinergi dengan Pemerintah dan Dunia Akademik
4.1. Kolaborasi Riset untuk Teknologi Hijau
Mulia Steel tidak berjalan sendiri dalam upaya transisi ini. Perusahaan menjalin kemitraan dengan beberapa universitas teknik dan lembaga penelitian metalurgi nasional untuk mengembangkan teknologi reduksi karbon dalam proses peleburan.
Fokus utama riset ini mencakup penggunaan gas hidrogen sebagai reduktor logam, peningkatan efisiensi termal, serta pengujian material hasil daur ulang agar memenuhi standar kekuatan internasional.
4.2. Dukungan terhadap Kebijakan Transisi Energi Nasional
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian dan Kementerian ESDM telah merilis berbagai insentif untuk industri yang berkomitmen mengurangi emisi karbon. Mulia Steel aktif berpartisipasi dalam program ini, termasuk rencana penggunaan sertifikat energi hijau (REC/Green Energy Certificate) untuk membuktikan bahwa sebagian energi yang digunakan berasal dari sumber terbarukan.
Langkah-langkah ini memperlihatkan bahwa perusahaan tidak hanya mengikuti arus kebijakan, tetapi menjadi bagian dari ekosistem energi hijau nasional.
-
Dampak Ekonomi dan Strategis bagi Masa Depan
5.1. Daya Saing di Pasar Global
Pasar global kini semakin menuntut produk logam dengan jejak karbon rendah. Banyak negara telah mulai memberlakukan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), yang memberikan beban pajak bagi produk logam dengan emisi tinggi.
Kesiapan Mulia Steel dalam memproduksi billet rendah emisi memberi keuntungan strategis — produk perusahaan tetap kompetitif di pasar ekspor tanpa terkena hambatan karbon.
Ini sekaligus membuka peluang besar untuk menjalin kemitraan baru dengan industri hilir di sektor otomotif, manufaktur, dan konstruksi ramah lingkungan.
5.2. Stabilitas Operasional dan Efisiensi Jangka Panjang
Berinvestasi pada energi hijau bukan hanya keputusan etis, tetapi juga strategi bisnis cerdas. Ketergantungan pada energi fosil membuat biaya produksi sangat fluktuatif, sementara energi terbarukan menawarkan stabilitas jangka panjang.
Dengan optimalisasi energi listrik dari sumber terbarukan, sistem EAF yang efisien, dan digitalisasi produksi, Mulia Steel menempatkan dirinya pada posisi kuat untuk menjaga stabilitas biaya operasional dan kualitas produk di tengah dinamika global.