Dalam era industri modern yang semakin menuntut keseimbangan antara produktivitas dan keberlanjutan, Mulia Steel menegaskan posisinya sebagai pionir dalam penerapan teknologi ramah lingkungan di sektor baja nasional.
Sebagai salah satu produsen billet baja terbesar di Indonesia, perusahaan ini menyadari bahwa aktivitas industri peleburan logam memiliki potensi menghasilkan limbah cair dan gas yang signifikan.
Namun, berbeda dari banyak pabrik konvensional, Mulia Steel membangun sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi, presisi, dan berstandar internasional, demi memastikan setiap tetes limbah dan partikel gas yang keluar dari proses produksi tidak menimbulkan dampak negatif bagi manusia maupun lingkungan.
“Kami tidak melihat limbah sebagai sisa yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang harus dikendalikan dan diolah secara bijak,”
— Direktur Lingkungan dan Keberlanjutan, Mulia Steel.
Memahami Tantangan: Limbah Industri Baja
Proses produksi billet baja mencakup tahapan kompleks, mulai dari peleburan bahan baku (scrap dan ferroalloy) hingga pencetakan (casting).
Setiap tahap tersebut berpotensi menghasilkan:
- Limbah cair seperti air pendingin bekas, air bilasan dari proses pembersihan, dan air hujan yang terkontaminasi logam berat.
- Emisi gas buang dari dapur peleburan (furnace) yang mengandung debu logam, CO₂, NOx, SO₂, dan partikel mikro lainnya.
Jika tidak dikelola dengan baik, kedua jenis limbah ini dapat mencemari air tanah, udara, dan ekosistem di sekitar area industri.
Oleh karena itu, Mulia Steel menjadikan pengelolaan limbah cair dan gas sebagai prioritas utama dalam sistem operasi pabrik.
-
Sistem Pengolahan Limbah Cair: “From Cooling to Clean Water”
a. Sistem Sirkulasi Tertutup (Closed-Loop Cooling System)
Salah satu inovasi unggulan di pabrik Mulia Steel adalah Closed-Loop Cooling System, yaitu sistem pendingin air tertutup yang memungkinkan air digunakan kembali tanpa dibuang ke lingkungan.
Air yang digunakan untuk mendinginkan billet atau furnace dialirkan ke menara pendingin (cooling tower), kemudian didinginkan dan disirkulasikan kembali ke sistem produksi.
Keuntungan sistem ini:
- Menghemat hingga 70% konsumsi air industri.
- Mencegah pembuangan air limbah ke sungai.
- Menekan risiko kontaminasi logam berat di air tanah.
Teknologi ini dilengkapi dengan sensor otomatis untuk memantau suhu dan tekanan air agar efisiensi pendinginan selalu optimal tanpa pemborosan energi.
b. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Berstandar Internasional
Air limbah non-sirkulasi, seperti air cucian peralatan, air hujan yang mengalir di area produksi, serta air dari sistem pembersihan gas, dialirkan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Di IPAL Mulia Steel, proses pengolahan dilakukan melalui beberapa tahap berlapis:
- Screening dan Sedimentasi Awal
Limbah disaring dari partikel besar seperti serpihan logam dan pasir. - Koagulasi dan Flokulasi
Bahan kimia ramah lingkungan digunakan untuk menggumpalkan partikel halus dan logam berat agar mudah dipisahkan. - Aerasi dan Bioreaktor
Air dialirkan melalui tangki aerasi untuk menambah oksigen dan mendukung pertumbuhan bakteri pengurai alami. - Filtrasi Karbon Aktif dan Pasir Silika
Tahap ini menyaring bau, warna, serta sisa zat kimia agar air benar-benar bersih. - Disinfeksi dan Pemulihan Ulang (Polishing Treatment)
Air hasil olahan diuji kembali dan dapat digunakan ulang untuk keperluan non-proses, seperti penyiraman taman atau sistem kebersihan.
Semua proses tersebut diawasi dengan sistem SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) yang memantau kualitas air secara real-time, memastikan setiap parameter seperti pH, COD, BOD, dan TSS berada di bawah ambang batas baku mutu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
-
Pengendalian Emisi Gas: “Clean Air Commitment”
a. Dust Collector dan Bag Filter System
Peleburan baja menghasilkan debu logam dan partikel halus yang harus disaring sebelum dilepaskan ke udara.
Untuk itu, pabrik billet Mulia Steel dilengkapi dengan Dust Collector System berbasis teknologi bag filter berkapasitas tinggi.
Udara panas yang keluar dari dapur peleburan disedot melalui cerobong, kemudian melewati ratusan kantong filter yang mampu menahan partikel hingga ukuran <10 mikron.
Dengan sistem ini, efisiensi penyaringan mencapai lebih dari 99,8%, sehingga udara yang dilepaskan ke atmosfer sudah memenuhi ambang batas baku mutu emisi industri baja
b. Gas Cleaning System: Menyaring CO₂, SO₂, dan NOx
Selain partikel debu, gas buang dari proses peleburan mengandung senyawa gas berbahaya seperti karbon dioksida (CO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan nitrogen oksida (NOx).
Mulia Steel mengimplementasikan Gas Cleaning System berbasis wet scrubber dan dry absorption technology untuk menurunkan kadar gas tersebut sebelum dilepaskan ke udara.
- Wet Scrubber: gas buang disemprot air atau larutan alkali untuk menyerap SO₂ dan NOx.
- Dry Absorber: menggunakan media kering berbasis kalsium karbonat dan zeolit untuk menangkap sisa gas asam.
Setelah proses ini, gas yang keluar dari cerobong hampir tidak berbau dan memiliki tingkat emisi jauh di bawah baku mutu nasional.
c. Continuous Emission Monitoring System (CEMS)
Sebagai bentuk transparansi dan tanggung jawab lingkungan, Mulia Steel memasang CEMS (Continuous Emission Monitoring System) yang memantau kadar emisi gas buang secara terus-menerus.
Data dari sistem ini terkoneksi langsung dengan KLHK dan Dinas Lingkungan Hidup setempat, memastikan seluruh operasi berjalan sesuai regulasi.
CEMS juga berfungsi sebagai sistem peringatan dini (early warning system) apabila terjadi anomali pada emisi gas, memungkinkan tim teknis melakukan penyesuaian segera tanpa menghentikan proses produksi.
-
Teknologi Pemulihan Energi dari Gas Buang
Mulia Steel tidak berhenti pada tahap pengendalian emisi saja.
Melalui program Waste Heat Recovery (WHR), panas yang dihasilkan dari gas buang furnace dimanfaatkan kembali untuk memanaskan air boiler dan menggerakkan turbin kecil yang menghasilkan listrik tambahan bagi pabrik.
Teknologi ini tidak hanya menghemat energi hingga 15%, tetapi juga mengurangi emisi CO₂ secara signifikan, memperkuat posisi Mulia Steel sebagai perusahaan baja yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular (circular economy).
-
Audit Lingkungan dan Sertifikasi Keberlanjutan
Sebagai bukti keseriusan, Mulia Steel secara rutin menjalani audit internal dan eksternal mengenai pengelolaan limbah cair dan gas, dengan hasil yang selalu memenuhi standar:
- ISO 14001:2015 (Environmental Management System)
- PROPER Hijau dari Kementerian LHK
- Sertifikasi Efisiensi Energi Industri Nasional
Audit dilakukan setiap tahun oleh lembaga independen, dan hasilnya diumumkan secara terbuka dalam laporan keberlanjutan perusahaan.
Langkah ini mencerminkan transparansi dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
-
Edukasi dan Kolaborasi dengan Masyarakat Sekitar
Mulia Steel percaya bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas industri, melainkan tanggung jawab kolektif.
Oleh karena itu, perusahaan secara rutin melakukan:
- Program edukasi lingkungan bagi warga sekitar pabrik.
- Pelatihan pengelolaan limbah rumah tangga untuk masyarakat.
- Penanaman pohon di area hijau industri dan sekolah-sekolah di sekitar kawasan operasional.
Inisiatif ini menjadi wujud nyata komitmen Mulia Steel dalam membangun harmoni antara industri dan ekosistem sosial.
Industri Baja Modern Harus Ramah Lingkungan
Keberhasilan Mulia Steel dalam mengelola limbah cair dan gas bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga representasi visi besar perusahaan:
menciptakan industri baja yang produktif, efisien, dan berkelanjutan bagi masa depan.
Dengan sistem pengolahan air limbah terintegrasi, pengendalian emisi gas yang ketat, serta penerapan teknologi pemulihan energi, Mulia Steel membuktikan bahwa pertumbuhan industri dan pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring.
Di tengah tantangan global menuju ekonomi hijau, langkah Mulia Steel menjadi bukti bahwa industri logam berat pun bisa beroperasi dengan hati nurani lingkungan, sekaligus tetap berkontribusi besar bagi pembangunan nasional.