Perubahan global menuju transisi energi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk mengurangi emisi karbon. Industri baja, termasuk produksi billet—sebagai bahan baku penting untuk besi beton, baja profil, hingga berbagai aplikasi manufaktur—menghadapi tekanan besar untuk bertransformasi.
Di tengah tantangan itu, Mulia Steel hadir dengan komitmen untuk tetap menjaga produktivitas sekaligus merespons tuntutan keberlanjutan. Artikel ini mengurai bagaimana industri billet menghadapi era transisi energi dan strategi apa yang dapat ditempuh agar tetap relevan.
Apa yang Dimaksud dengan Transisi Energi?
Transisi energi adalah proses pergeseran penggunaan energi berbasis fosil (batu bara, minyak, gas) menuju sumber energi yang lebih bersih seperti energi terbarukan, listrik ramah lingkungan, dan hidrogen hijau.
Indonesia, melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), menargetkan porsi energi baru terbarukan mencapai 23% pada 2025 (sumber: esdm.go.id). Hal ini akan berimbas besar pada industri berat, termasuk sektor baja.
Peran Billet dalam Industri Baja
Billet adalah produk setengah jadi dari baja yang berbentuk batang panjang. Fungsi utamanya adalah:
- Bahan dasar besi beton untuk infrastruktur.
- Bahan baku baja profil untuk jembatan, gedung bertingkat, dan konstruksi besar.
- Komponen manufaktur seperti otomotif, mesin, dan peralatan rumah tangga.
Dengan kata lain, tanpa billet, rantai pasok baja nasional akan terhenti.
Tantangan Industri Billet di Era Transisi Energi
- Tingginya Konsumsi Energi dalam Produksi
Proses pembuatan billet, khususnya melalui blast furnace atau electric arc furnace (EAF), membutuhkan energi dalam jumlah besar. Di era transisi energi, tekanan untuk beralih dari batu bara ke sumber energi bersih menjadi tantangan teknis sekaligus finansial.
- Tekanan Regulasi dan Standar Emisi
Pemerintah Indonesia telah mendorong roadmap Net Zero Emission 2060 (sumber: bappenas.go.id). Industri billet harus menyesuaikan diri dengan regulasi lingkungan yang semakin ketat, termasuk kewajiban mengurangi jejak karbon.
- Kenaikan Biaya Produksi
Penggunaan energi terbarukan pada tahap awal sering kali lebih mahal dibanding energi fosil. Hal ini bisa berdampak pada harga billet dan daya saing produk baja Indonesia di pasar global.
- Persaingan Global
Negara-negara produsen baja besar seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan sudah lebih dulu berinvestasi pada teknologi hijau, misalnya hydrogen-based steelmaking. Jika Indonesia tertinggal, industri billet dalam negeri bisa kehilangan pasar ekspor.
- Ketersediaan Teknologi Ramah Lingkungan
Teknologi seperti carbon capture storage (CCS) dan pemakaian hydrogen furnace masih terbatas di Indonesia. Hal ini menimbulkan kesenjangan antara target transisi energi dengan realitas lapangan.
Strategi Mulia Steel Menghadapi Era Transisi Energi
Sebagai salah satu pemain di industri billet, Mulia Steel mengembangkan berbagai langkah adaptif, di antaranya:
- Efisiensi Energi di Pabrik
Mengoptimalkan proses peleburan dan rolling untuk menekan konsumsi energi per ton billet. - Diversifikasi Sumber Energi
Memulai penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap untuk sebagian kebutuhan operasional. - Investasi pada Teknologi Baru
Menjalin kerja sama dengan lembaga penelitian dan teknologi baja untuk mengembangkan sistem produksi rendah emisi. - Pengelolaan Limbah yang Lebih Baik
Limbah produksi seperti slag diolah kembali sebagai bahan konstruksi, sehingga mengurangi dampak lingkungan. - Kolaborasi dengan Pemerintah dan Stakeholder
Mulia Steel aktif mendukung program pemerintah dalam mencapai target energi bersih dan efisiensi industri.
Peluang di Tengah Tantangan
Meski penuh tekanan, era transisi energi justru membuka peluang:
- Green billet: Produk billet dengan emisi karbon rendah bisa menjadi keunggulan kompetitif di pasar ekspor.
- Dukungan kebijakan: Pemerintah memberikan insentif bagi industri yang berinvestasi pada teknologi hijau.
- Permintaan pasar global: Konsumen internasional semakin mencari produk baja ramah lingkungan.
Mulia Steel berpotensi menjadi pelopor billet berkelanjutan di Indonesia.